BAB 1
Evaluasi Pembelajaran
A.
Pengertian
Evaluasi Pendididikan Dalam Proses Pembelajaran
Pengertian evaluasi menurut
beberapa ahli
a. Menurut
tyler (1950) dalam Mahyudin (2008:5) evaluasi adalah sebuah prosesn pengumpulan
data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagaimana tujuan
pendidikan sudah tercapai. Jika belum, bagaimana yang belum ada apa sebabnya.
b. Menurut
NSW departemen of education (dikutip artur,1966) dalam Mahyudin (2005:6)
evaluasi adalah proses pengumpulan data dan membuat keputusan tentang
efektifitas program pembelajaran, kebijakan dan procedure.
c. Menurut
Hill (1993 ) dalam Mahyudin (2008 : 6) evaluasi adalah proses merangkum dan
menginterprestasikan kejadian, dan membuat keputusan professional berdasarkan
informasi yang telah dikumpulkan.
Dari pendapat beberapa ahli diatas,
dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah suatu proses untuk menentukan nilai
suatu (tujuan, kegiatan,keputusan,orang, objek, dan lainnya) berdasarkan
criteria tertentu melalui penilaian dan dilakukan secara berkala seperti
evaluasi harian, mingguan, bulanan, semester dan tahun. Setelah itu dapat
dilakukan merangkum,menilai dan mengambil keputusan berdasarkan hasil asesmen.
Contohnya dalam pendidikan anak
usia dini, evaluasi dilakukan lebih kearah kualitatif (simbol) dari pada
kuantitatif (angka/data). Dimana guru berusaha menilai perkembangan anak selama
mengikuti kegiatan pada kelompok bermain yang merupakan suatu tanggung jawab
dari guru pada orangtua. Yang diarahakan pada proses pembelajaran melalui
bermain, berdasarkan penilaian yang dilakukan proses ini dapat diperoleh
informasi tentangn kelemahan dan kelebihan program,guru,media dan lainnya dalam
pembelajaran.
B.
Manfaat
Evaluasi Pendidikan Di Tk
Menurut
Daryanto (2007) Manfaat evaluasi
pendidikan adalah :
a. bagi
guru antara lain :
Guru mengetahui mulai dari tujuan,
isi atau materi, media, sumber belajar yang digunakan apakah sudah sesuai atau
belum dengan apa yang sudah direncanakan dan dilaksanakan. Jika belum maka guru
bisa memberi perhatian yang memusat dan perubahan lainnya sehingga keberhasilan
selanjutnya dapat diharapkan.
Contohnya jika guru merasa dengan
tema binatang metode bercerita dan metode ceramah tidak cocok untuk
pembelajaran saat itu, maka ia harus mencari metode yang lebih efektif agar
pembelajaran berhasil.
b. Bagi
murid
Murid mengetahui sejauh mana ia
berhasil dalam pembelajaran, apakah hasilnya memuaskan atau tidak memuaskan
sehingga siswa akan mempunyai motivasi dalam belajar.
Contohnya : kegiatan menggambar,
anak mendapat nilai bintang 3. Dengan mendapatkan bintang 3 tersebut anak
menjadi lebih bersemangat dalam belajar. Sehingga anak secara tidak sadar dapat
melatih kemampuan berbahasanya dengan menceritakan hasil yang ia dapat
disekolahnya kepada kedua orang tuanya.
c. Bagi
sekolah
Untuk mengetahui apakah kondisi
belajar yang diceritakan oleh sekolah sudah sesuai dengan harapan atau belum
karena hasil belajar merupakan cermin kualitas suatu sekolah sehingga pihak
sekolah termitivasi untuk memberikan sarana dan prasaranya yang lebih baik lagi
untuk menunjang suasana pembelajaran yang kondusif dan aman disekolah tersebut.
C.
Pentingnya
evaluasi pendidikan di TK
Menurut Daryanto (2007) pentingnya
evaluasi pembelajaran adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai
tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa sehingga dapat diupayakan
tindak lanjutnya. Seperti pemberian umpan balik setelah dilakukannya evaluasi contoh
asesmen dari segi bahasa anak misalnya ada anak yang kurang percaya diri berkomunikasi baik dengan teman ataupun
didepan kelas, setelah dievaluasi umpan baliknya adalah anak lebih distimulasi
contohnya dengan mengajaknya berbicara atau bercakap-cakap. Sehingga
memunculkan sikap percaya diri pada anak.
D.
Pelaksanaan
evaluasi pendidikan di TK
Penilaian di TK menggunakan tiga kegiatan utama yang
merupakan rangkaian kerja yang dilakukan oleh pengamat atau guru, yaitu sebagai
berikut
a)
Mengamati (observation) Kegiatan
pengamatan adalah proses memperhatikan seseorang anak atau sekelompok anak saat
melakukan suatu kegiatan bermain dan belajar
b)
Mencatat ( recording) Kegiatan mencatat adalah
proses mendokumentasikan tentang kegiatan atau dalam suatu kegiatan tertentu
yang teramati dengan baik baik yang bersifat positif maupun yang bersifat
negative
c)
Melaporkan Kegiatan melaporkan
adalah proses pengambilan keputusan
sebagai hasil pengamatan dan pencatatan yang terdahulu untuk selanjutnya
diinformasikan kepada pihak orangbtua atau keluarga dalam bentuk laporan baik
laporan tertulis maupun laporan lisan.
Teknik Pencatatan
Terdapat pendekatan yang disesuaukan dengan kebutuhan dan peristiwa yaitu
sebagai berikut :
a)
Guru selalu menyimpan kertas dan
pensil dikantong atau saku untuk dapat menggambarkan kejadian penting dari
sebuah ineraksi
b)
Menyimpan kertas dan pensil diruangan kelas
untuk mencatat keterangan
c)
Ketika semua kegiatan selesai,
catatan – catatan pendek tersebut disalin secara lebih terperinci dan detail
kedalam sebuah buku besar untuk diarsipkan
d)
Membuat catatan harian untuk
menggambarkan pengamatan spesifik dari kesan – kesan umum tentang suatu
kegiatan pada hari tersebut
e)
Menggunakan kartu catatan perorangan
untuk setiap anak.
E.
Prinsip-prinsip
evaluasi pendidikan di TK
Prinsip-prinsip evaluasi anak di TK antara lain :
1. Berpusat
pada anak
Berarti pembelajaran dan semua yang
menyertainya disesuaikan dengan kebutuhan, gaya, dan cara belajar, kemampuan,
serta kondisi mental psikologis dan social anak dimana guru diharapkan
benar-benar mengenali anak didiknya.
2. Berkesinambungan
Dilakukan secara bertahap, dan terus
menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan proses belajar.
Contohnya adanya laporan harian, mingguan, bulanan, semester, dan tahunan anak
usia dini
3. Lebih
mementingkan proses dari pada hasil
Dimana penilaiannya dilakukan saat
proses pembelajaran berlangsung bukan dilakukan seperti penilaian pada anak SD
atau SMP yang menggunakan tes akhir.
4. Objektif
dan alamiah
Tidak bersifat mengada-ada. Maksudnya
adalah kita memberikan penilaian tidak bergantung pada adanya hubungan
emosional atau persaudaraan. Jangan Karena dia bukan saudara atau orang penting
kita memberikan penilaian yang tidak mendidik.
5. Mendidik
Penilaian yang dilakukan mampu memotivasi
siswa atau orang tua agar lebih giat lagi dalam belajar. Penilaian bukan dimaksudkan
memojokkan siswa, contohnya ada siswa yang kurang mampu dalam aspek kognitif
jadi didalam laporan anak tersebut disampaikan dengan kata-kata yang mudah
dimengerti dan mendidik.
6. Konsisten
danjujur
Guru dalam menilai harus bersikap jujur
dimana tidak terpengaruh dengan tekanan apapun.
F.
Karakteristik
evaluasi pendidikan di TK
Secara
sederhana, Zainal Arifin (2011 : 69) mengemukakan karakteristik instrumen
evaluasi yang baik adalah “valid, reliabel, relevan, representatif, praktis,
deskriminatif, spesifik dan proporsional”.
1. Kevalidan.
Valid
artinya suatu alat ukur dapat dikatakan valid jika betul-betul mengukur apa
yang hendak diukur secara tepat. Misalnya, alat ukur matapelajaran Ilmu Fiqih,
maka alat ukur tersebut harus betul-betul dan hanya mengukur kemampuan peserta
didik dalam mempelajari Ilmu Fiqih, tidak boleh dicampuradukkan dengan materi
pelajaran yang lain. Validitas suatu alat ukur dapat ditinjau dari berbagai
segi, antara lain validitas ramalan (predictive validity), validitas bandingan
(concurent validity), dan validitas isi (content validity), validitas konstruk
(construct validity), dan lain-lain.
2. Realible.
Reliabel
artinya suatu alat ukur dapat dikatakan reliabel atau handal jika ia mempunyai
hasil yang taat asas (consistent). Misalnya, suatu alat ukur diberikan kepada
sekelompok peserta didik saat ini, kemudian diberikan lagi kepada sekelompok
peserta didik yang sama pada saat yang akan datang, dan ternyata hasilnya sama
atau mendekati sama, maka dapat dikatakan alat ukur tersebut mempunyai tingkat
reliabilitas yang tinggi.
3. Relevan.
Relevan
artinya alat ukur yang digunakan harus sesuai dengan standar kompetensi,
kompetensi dasar, dan indikator yang telah ditetapkan. Alat ukur juga harus
sesuai dengan domain hasil belajar, seperti domain kognitif, afektif, dan
psikomotor. Jangan sampai ingin mengukur domain kognitif menggunakan alat ukur
non-tes. Hal ini tentu tidak relevan.
4. Representatif.
Representatif
artinya materi alat ukur harus betul-betul mewakili dari seluruh materi yang
disampaikan. Hal ini dapat dilakukan bila guru menggunakan silabus sebagai
acuan pemilihan materi tes. Guru juga harus memperhatikan proses seleksi
materi, mana materi yang bersifat aplikatif dan mana yang tidak, mana yang penting
dan mana yang tidak.
5. Praktis.
Praktis
artinya mudah digunakan. Jika alat ukur itu sudah memenuhi syarat tetapi sukar
digunakan, berarti tidak praktis. Kepraktisan ini bukan hanya dilihat dari
pembuat alat ukur (guru), tetapi juga bagi orang lain yang ingin menggunakan
alat ukur tersebut.
6. Deskriminatif.
Deskriminatif
artinya adalah alat ukur itu harus disusun sedemikian rupa, sehingga dapat menunjukkan
perbedaan-perbedaan yang sekecil apapun. Semakin baik suatu alat ukur, maka
semakin mampu alat ukur tersebut menunjukkan perbedaan secara teliti. Untuk
mengetahui apakah suatu alat ukur cukup deskriminatif atau tidak, biasanya
didasarkan atas uji daya pembeda alat ukur tersebut.
7. .Spesifik.
Spesifik
artinya suatu alat ukur disusun dan digunakan khusus untuk objek yang diukur.
Jika alat ukur tersebut menggunakan tes, maka jawaban tes jangan menimbulkan
ambivalensi atau spekulasi.
8. .Proporsional.
Proporsional
artinya suatu alat ukur harus memiliki tingkat kesulitan yang proporsional
antara sulit, sedang dan mudah. Begitu juga ketika menentukan jenis alat ukur,
baik tes maupun non-tes.
G.
Penggunaan
hasil evaluasi pendidikan di TK
Hasil evaluasi perkembangan anak usia dini dapat
digunakan untuk keperluan: (a) administratif, (b) pembelajaran/kegiatan, (c)
bimbingan dan penyuluhan, serta (d) penyelidikan.
a. Kepentingan Administratif.
Hasil evaluasi perkembangan anak usia dini secara administratif dapat digunakan
untuk :
a) laporan
perkembangan (moral dan agama, kognitif, bahasa, fisik/motorik, sosial
dan emosial, tingkah laku, minat, kecakapan, dsb.
b) laporan kepada
orang tua tentang perkembangan anak usia dini.
c) laporan-laporan
periodik tentang kemajuan lembaga.
b. Kepentingan
Pembelajaran/Kegiatan Hasil evaluasi perkembangan anak usia dini dapat
digunakan untuk kepentingan pembelajaran/kegiatan, yakni:
a) memberikan data
yang dapat digunakan untuk memperbaiki dan mengembangkan pembelajaran/kegiatan.
b) mengidentifikasi
perkembangan anak usia dini dalam mengikuti pembelajaran/kegiatan.
c) Kepentingan
Bimbingan Penyuluhan Hasil evaluasi perkembangan anak usia dini dapat digunakan
untuk pemberian bimbingan dan menganalisis diagnostik tentang permasalahan anak
usia dini.
d) Kepentingan
Penyelidikan Hasil evaluasi perkembangan anak usia dini dapat digunakan untuk
bahan penyelidikan terkait perkembangan anak usia dini. Penyelidikan ini
dilakukan dalam upaya mengembangkan anak usia dini secara optimal.
BAB
II
PENUTUP
A. Kesimpulan
evaluasi adalah suatu proses untuk menentukan
nilai suatu (tujuan, kegiatan,keputusan,orang, objek, dan lainnya) berdasarkan
criteria tertentu melalui penilaian dan dilakukan secara berkala seperti
evaluasi harian, mingguan, bulanan, semester dan tahun. Setelah itu dapat
dilakukan merangkum,menilai dan mengambil keputusan berdasarkan hasil asesmen
pentingnya evaluasi pembelajaran
adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian
tujuan instruksional oleh siswa sehingga dapat diupayakan tindak lanjutnya.
Dengan mempertimbangkan karakteristik instrumen evaluasi seperti “valid, reliabel, relevan, representatif,
praktis, deskriminatif, spesifik dan proporsional”.
Hasil evaluasi perkembangan anak usia dini dapat
digunakan untuk keperluan: (a) administratif, (b) pembelajaran/kegiatan, (c)
bimbingan dan penyuluhan, serta (d) penyelidikan.
Daftar
Pustaka
Daryanto.2007.Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Rineka
Cipta
Mahyuddin,Nenny.2008.Asesmen Anak Usia Dini.Padang : UNP
Press
Tidak ada komentar :
Posting Komentar