Kamis, 04 Desember 2014

OBSERVASI DAN PENYUSUNAN PANDUAN OBSERVASI


BAB I
PEMBAHASAAN
OBSERVASI DAN  PENYUSUNAN PANDUAN OBSERVASI
1     Pengertian Observasi
Observasi atau pengamatan di TK adalah bagian kesatuan dari kegiatan pembelajaran. Sesungguhnya untuk mengerti  anak-anak didik, cara yang lazim digunakan ialah mengamati perilaku mereka, antara lain perilaku-perilaku khusus anak didik, misalnya, anak suka melakukan tindakan agresif, baik secara verbal maupun fisik. Selain itu juga mengamati interaksi kelompok kecil anak didik untuk mengungkap apa yang mereka lakukan. Observasi adalah suatu cara untuk mendapatkan keterangan mengenai situasi dengan melihat dan mendengar apa yang terjadi kemudian dicatat secara cermat.
Observasi juga merupakan pencatatan indikator perkembangan anak dalam kondisi natural. Di dalamnya memuat proses observasi yang terdiri dari tiga komponen: pengamatan (observing), mendokumentasikan hal yang kita amati dengan berbagai cara (recording) dan merefleksikan makna hal yang kita observasi (interpreting). 
http://wahidin.staff.stainsalatiga.ac.id/page/2/ Memaparkan Pengamatan (observasi) adalah suatu teknik yang dapat dilakukan guru untuk mendapatkan berbagai informasi atau data tentang perkembangan dan permasalahan anak. Melalui pengamatan, guru dapat mengetahui bagaimana perubahan yang terjadi pada anak dalam satu waktu tertentu.
Observasi dilakukan dengan cara mengamati berbagai perilaku atau perubahan yang terjadi (nampak) yang ditunjukkan anak selama kurun waktu tertentu. Teknik ini dilakukan hanya dengan cara mengamati dan tidak melakukan percakapan (wawancara) dengan anak yang sedang diamati.
Anak seringkali menunjukkan perubahan perilaku yang tiba-tiba. Misalnya, ketika masuk ke dalam kelas anak menunjukkan sikap yang tenang dan menyenangkan, tetapi beberapa waktu kemudian berubah menjadi pemurung dan tidak mau diajak berbicara. Pada dasarnya perubahan perilaku yang tiba-tiba pada anak adalah wajar, karena anak cenderung tidak mampu menutupi berbagai permasalahan yang dihadapinya. Namun bila perubahan perilakunya sering ditunjukan anak selama proses pembelajaran di taman kanak-kanak, memberikan gambaran mungkin anak sedang mengalami suatu masalah tertentu, baik yang berkaitan dengan diri sendiri atau dengan lingkungannya. Misalnya, anak tiba-tiba menunjukkan perubahan sikap tertentu, mungkin anak saat itu sedang sakit, atau anak mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari lingkungannya.
Anak umumnya belum dapat menyadari bahwa dirinya mengalami suatu masalah tertentu, sehingga bila anak ditanya apakah anak sedang punya masalah tertentu, cenderung anak tidak dapat menjawabnya. Oleh karena itu masalah anak dapat dilihat dari berbagai perilaku yang ditampakkannya.
Kegiatan observasi dapat dilaksanakan dalam berbagai situasi seperti kegiatan di dalam dan di luar kelas, diskusi/kerja kelompok, tanya jawab, menonton film/video, inisiatif anak membantu teman/guru, persentasi lisan (penggunaan kosa kata, organisasi kalimat, kontak mata atau konsentrasi), spontanitas berinteraksi (keterampilan motorik atau ide melakukan kegiatan), waktu bebas, istirahat (waktu makan, pilihan aktivitas, kuantitas waktu yang digunakan dalam beraktivitas meupun berinteraksi dengan teman), posisi fisik anak saat duduk (membaca, menulis dan lain-lain). 
2.   Penyusunan Panduan Observasi
Agar dapat merekam data observasi secara sistematis, maka dapat digunakan format-format tertentu yang dipersiapkan terlebih dahulu, antara lain:
a.       Catatan anecdotal: adalah suatu tulisan singkat mengenai suatu peristiwa yang penting, bermakna dalam kehidupan sehari-hari anak. Biasanya ditulis secara factual, dan pencatatan dilakukan secepat mungkin setelah ada waktu. Untuk menghindari kelupaan, maka dapat dibuat catatan singkat di kartu catatan anecdotal seukuran kartu pos. Begitu ada waktu segera ditulis secara lengkap dengan menggunakan format catatan anecdotal. Disarankan setiap minggu ada satu catatan anecdotal untuk setiap anak. Dengan demikian kumpulan informasi itu akan membantu pendidik memahami perubahan perilaku anak yang terkait dengan perkembangan.
Contoh kartu notes catatan anecdotal anak

Kejadian:                                    Di halaman
                                                         12-06-2010/10.30
Eva berbagi kue dengan Siti,
Ika awalnya tdk, kmd mengikuti.
Mengapa???









Contoh elaborasi catatan anecdotal
Nama anak: Ika    Usia: 4 tahun
Tgl/ waktu : 12-06-2010/10.30
Pengamat   : Yulia
Tempat       : Halaman

Peristiwa yang teramati:
Ketika kue Siti jatuh, Ika yang pertama melihat diam saja, tidak bersedia membagikan kuenya dengan Siti. Namun Eva yang kemudian melihat kejadian tersebut langsung membagikan kue kepada Siti. Setelah mengamati Eva berbagi, maka Ika memodel perilaku Eva, dan ikut membagikan kuenya pada Siti.
Komentar/Ringkasan
Ika merupakan anak tunggal, sehingga tidak terbiasa berbagi dengan saudaranya. Setelah melihat Eva berbagi kue dengan Siti, Ika belajar perilaku social dengan ikut membagikan kuenya pada Siti. Siti senang, dan semua ikut senang. Pada interaksi ini terlihat adanya perkembangan social-emosional.

Apa maknanya hal ini dalam tahap perkembangan anak seusia 4 tahun.

Pelajari semua aspek perkembangan anak usia 4 tahun

b.      Ceklis: adalah daftar catatan tentang sesuatu hal yang menjadi rujukan untuk mengecek apakah sesuatu terjadi atau tidak. Ceklis dapat digunakan untuk menilai pencapaian perkembangan anak. Ceklis hendaknya dirancang untuk memotret criteria yang sudah baik rumusannya. Sebagai contoh ceklis tentang perkembangan bahasa untuk anak 1-2 tahun, criteria yang digunakan ialah “Menu Pembelajaran Generik” dari Depdiknas tahun 2002, maka bentuk ceklis itu sebagai berikut:
Indikator
Penilaian
Nama Anak: Ika
Nama Anak: Ani
Nama Anak: Itok
A
B
C
A
B
C
A
B
C
Merespon bila dipanggil namanya
V
V
V
Mengenal suara orang-orang terdekat
V
V
V
Mengatakan 2 kata yang bermakna
V
V
V
Mengerti satu perintah
V
V
V
Menyebutkan  nama benda
V
V
V
Keterangan:
A: Bisa
B: Bisa dengan bantuan
C: Tidak bisa
c.       Skala jenjang (Rating scale): Hasil dari observasi dapat dituangkan dalam format skala jenjang, dengan syarat pengamatnya memahami benar kategori “sesuatu” yang sedang diamati; bisa dinyatakan dengan angka (misalnya: 1, 2, 3), bisa juga dengan naratif (Tidak pernah, Kadang-kadang, Selalu).
Contoh skala jenjang tentang perkembangan social
Nama anak: Susilo
Indikator
Tidak Pernah
Kadang-kadang
Selalu
Mengucapkan “terima kasih” apabila diberi sesuatu
V
Memohon maaf apabila melakukan kesalahan
V
Membantu teman yang mengalami kesulitan
V

d.      Sampling waktu: ialah cara mengambil contoh sebagian dari keseluruhan waktu yang ada. Yang dicatat dalam kurun waktu tertentu, apakah suatu perilaku tertentu muncul atau tidak , dan berapa kali munculnya perilaku itu. Pengamat menentukan sendiri kapan waktu dilaksanakannya observasi, berapa interval waktunya, dan bagaimana perilaku akan dicatat.
Contoh sampling waktu tentang frekuensi perilaku konsentrasi
Perubahan konsentrasi
Waktu
Komentar
Mendengarkan cerita
9.00
9.05
9.10
Terjadi perubahan perilaku anak dari tidak konsentrasi menjadi konsentrasi
(T) (K)
 V
(T) (K)
       V
(T) (K)
       v

Keterangan:
(T) : Tidak konsentrasi
(K) : Konsentrasi
e.       Sampling peristiwa: Pengamat merekam data tentang contoh peristiwa atau kategori peristiwa yang terjadi. Pertama pengamat menentukan dahulu peristiwa apa yang ingin dicata, kemudian merekam setiap peristiwa itu apabila teramati.
Contoh tentang perilaku agresif
Nama anak: Janto
Memukul
Mengumpat
Menendang
Komentar
Tgl 12/5/10
I
Iii
-
Perilaku agresif Janto lebih banyak dalam bentuk mengumpat
Tgl 13/5/10
-
Iiii
-
Tgl 14/5/10
-
Ii
I

Pedoman observasi tentang aktivitas anak taman kanak-kanak
saat proses pembelajaran berlangsung
(tidak berstruktur)
A.    Nama anak : …………………………………………………………
B.    Kelas/kelompok : …………………………………………………………
C.     Hari/tanggal observasi: ................................................................................……
D.    Kesimpulan : ……………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………. ……………………………………………………………………………………. …………………………………………………………………………………….

Observer/guru



(……………………..)
Contoh pedoman observasi yang terstruktur dapat dilihat dalam format sebagai berikut :
Pedoman observasi tentang aktivitas anak taman kanak-kanak saat proses pembelajaran berlangsung
(terstruktur)
A.       Kelas/kelompok : ……………………………………………………………
B.        Hari/tanggal observasi : ......................................................................………
Observer/guru



(……………………..)
3.      Kelebihan dan Kelemahan Observasi
Kelebihan observasi
a.       Waktu yang digunakan tidak terlalu lama karena guru cukup memberikan tanda cek atau gambaran perilaku yang ditampakkan anak terhadap pernyataan yang ada dalam format observasi,
b.      Observasi memungkinkan pencatatan yang serempak untuk beberapa responden (yang diobservasi), khususnya bila menggunakan pedoman observasi yang terstruktur,
c.       Tidak membutuhkan biaya yang besar, dan
d.      Teknik pengumpulan dilakukan hanya dengan cara mengamati saja, tidak perlu menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan objek yang sedang diobervasi.
Kelemahan observasi
a.       Guru hanya mengamati perilaku yang nampak pada anak, kurang mendapatkan informasi yang mendalam tentang permasalahan atau perkembangan yang terjadi pada anak.
b.      Perilaku yang nampak belum tentu menggambarkan masalah atau perkembangan yang sebenarnya pada anak,
c.       Apabila objek observasi mengetahui bahwa ia sedang diobservasi maka cenderung dapat bertingkah yang dibuat-buat,
d.      Timbulnya suatu kejadian yang hendak diobservasi tidak selalu dapat diramalkan sebelumnya oleh guru sebagai observer sehingga sukar untuk menentukan waktu yang tepat untuk melakukan observasi, dan
e.       Observasi banyak tergantung kepada faktor-faktor yang tidak dapat dikontrol, seperti cuaca, berbagai kegiatan yang berlangsung tiba-tiba, dan sebagainya.

BAB II
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Observasi adalah suatu cara untuk mendapatkan keterangan mengenai situasi dengan melihat dan mendengar apa yang terjadi kemudian dicatat secara cermat. Kegiatan observasi dapat dilaksanakan dalam berbagai situasi seperti kegiatan di dalam dan di luar kelas, diskusi/kerja kelompok, tanya jawab, menonton film/video, inisiatif anak membantu teman/guru, persentasi lisan (penggunaan kosa kata, organisasi kalimat, kontak mata atau konsentrasi), spontanitas berinteraksi (keterampilan motorik atau ide melakukan kegiatan), waktu bebas, istirahat (waktu makan, pilihan aktivitas, kuantitas waktu yang digunakan dalam beraktivitas meupun berinteraksi dengan teman), posisi fisik anak saat duduk (membaca, menulis dan lain-lain). 
Observasi dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti catatan anekdot, ceklis, skala jenjang, sampling waktu, dan sampling peristiwa. Dan semuanya dapat digunakan dalam observasi di tk disesuaikan dengan kebutuhan serta situasi dan kondisi yang mendukung untuk kegiatan tersebut dilakukan.



DAFTAR RUJUKAN
Depdiknas. (2002). Acuan menu pembelajaran pada pendidikan anak usia dini: Menu   pembelajaran generic. Jakarta: Direktorat PADU dan Dirjen PLS dan Pemuda.
Wasesa, I. (2005). Evaluasi pembelajaran TK. Jakarta: Pernerbit UT.
http://wahidin.staff.stainsalatiga.ac.id/page/2/

Tidak ada komentar :

Posting Komentar