BAB I
PEMBAHASAAN
OBSERVASI DAN PENYUSUNAN PANDUAN OBSERVASI
1 Pengertian
Observasi
Observasi atau pengamatan di TK adalah
bagian kesatuan dari kegiatan pembelajaran. Sesungguhnya untuk mengerti anak-anak didik, cara yang lazim digunakan ialah mengamati perilaku
mereka, antara lain perilaku-perilaku khusus anak didik, misalnya, anak suka
melakukan tindakan agresif, baik secara verbal maupun fisik. Selain itu juga
mengamati interaksi kelompok kecil anak didik untuk mengungkap apa yang mereka
lakukan. Observasi
adalah suatu cara untuk mendapatkan keterangan mengenai situasi dengan melihat
dan mendengar apa yang terjadi kemudian dicatat secara cermat.
Observasi juga merupakan pencatatan indikator perkembangan anak dalam
kondisi natural. Di dalamnya memuat proses observasi yang terdiri dari tiga
komponen: pengamatan (observing), mendokumentasikan hal yang kita amati dengan
berbagai cara (recording) dan merefleksikan makna hal yang kita observasi
(interpreting).
http://wahidin.staff.stainsalatiga.ac.id/page/2/ Memaparkan Pengamatan (observasi) adalah suatu teknik
yang dapat dilakukan guru untuk mendapatkan berbagai informasi atau data
tentang perkembangan dan permasalahan anak. Melalui pengamatan, guru dapat mengetahui
bagaimana perubahan yang terjadi pada anak dalam satu waktu tertentu.
Observasi
dilakukan dengan cara mengamati berbagai perilaku atau perubahan yang terjadi
(nampak) yang ditunjukkan anak selama kurun waktu tertentu. Teknik ini dilakukan
hanya dengan cara mengamati dan tidak melakukan percakapan (wawancara) dengan
anak yang sedang diamati.
Anak seringkali
menunjukkan perubahan perilaku yang tiba-tiba. Misalnya, ketika masuk ke dalam
kelas anak menunjukkan sikap yang tenang dan menyenangkan, tetapi beberapa
waktu kemudian berubah menjadi pemurung dan tidak mau diajak berbicara. Pada
dasarnya perubahan perilaku yang tiba-tiba pada anak adalah wajar, karena anak
cenderung tidak mampu menutupi berbagai permasalahan yang dihadapinya. Namun
bila perubahan perilakunya sering ditunjukan anak selama proses pembelajaran di
taman kanak-kanak, memberikan gambaran mungkin anak sedang mengalami suatu
masalah tertentu, baik yang berkaitan dengan diri sendiri atau dengan
lingkungannya. Misalnya, anak tiba-tiba menunjukkan perubahan sikap tertentu,
mungkin anak saat itu sedang sakit, atau anak mendapatkan perlakuan yang tidak
menyenangkan dari lingkungannya.
Anak umumnya
belum dapat menyadari bahwa dirinya mengalami suatu masalah tertentu, sehingga
bila anak ditanya apakah anak sedang punya masalah tertentu, cenderung anak
tidak dapat menjawabnya. Oleh karena itu masalah anak dapat dilihat dari
berbagai perilaku yang ditampakkannya.
Kegiatan observasi dapat dilaksanakan dalam berbagai situasi seperti
kegiatan di dalam dan di luar kelas, diskusi/kerja kelompok, tanya jawab,
menonton film/video, inisiatif anak membantu teman/guru, persentasi lisan
(penggunaan kosa kata, organisasi kalimat, kontak mata atau konsentrasi),
spontanitas berinteraksi (keterampilan motorik atau ide melakukan kegiatan),
waktu bebas, istirahat (waktu makan, pilihan aktivitas, kuantitas waktu yang
digunakan dalam beraktivitas meupun berinteraksi dengan teman), posisi fisik
anak saat duduk (membaca, menulis dan lain-lain).
2. Penyusunan Panduan Observasi
Agar
dapat merekam data observasi secara sistematis, maka dapat digunakan
format-format tertentu yang dipersiapkan terlebih dahulu, antara lain:
a. Catatan anecdotal: adalah suatu tulisan singkat
mengenai suatu peristiwa yang penting, bermakna dalam kehidupan sehari-hari
anak. Biasanya ditulis secara factual, dan pencatatan dilakukan secepat mungkin
setelah ada waktu. Untuk menghindari kelupaan, maka dapat dibuat catatan
singkat di kartu catatan anecdotal seukuran kartu pos. Begitu ada waktu segera
ditulis secara lengkap dengan menggunakan format catatan anecdotal. Disarankan
setiap minggu ada satu catatan anecdotal untuk setiap anak. Dengan demikian
kumpulan informasi itu akan membantu pendidik memahami perubahan perilaku anak
yang terkait dengan perkembangan.
Contoh kartu notes catatan anecdotal
anak
|
Contoh elaborasi catatan anecdotal
|
Nama anak: Ika
Usia: 4 tahun
Tgl/ waktu : 12-06-2010/10.30
Pengamat : Yulia
Tempat
: Halaman
Peristiwa yang teramati:
Ketika kue Siti jatuh, Ika yang
pertama melihat diam saja, tidak bersedia membagikan kuenya dengan Siti.
Namun Eva yang kemudian melihat kejadian tersebut langsung membagikan kue
kepada Siti. Setelah mengamati Eva berbagi, maka Ika memodel perilaku Eva, dan
ikut membagikan kuenya pada Siti.
|
Komentar/Ringkasan
Ika merupakan anak tunggal,
sehingga tidak terbiasa berbagi dengan saudaranya. Setelah melihat Eva
berbagi kue dengan Siti, Ika belajar perilaku social dengan ikut membagikan
kuenya pada Siti. Siti senang, dan semua ikut senang. Pada interaksi ini
terlihat adanya perkembangan social-emosional.
|
|
Apa maknanya hal ini dalam tahap
perkembangan anak seusia 4 tahun.
|
Pelajari semua aspek perkembangan
anak usia 4 tahun
|
b. Ceklis: adalah daftar catatan tentang
sesuatu hal yang menjadi rujukan untuk mengecek apakah sesuatu terjadi atau
tidak. Ceklis dapat digunakan untuk menilai pencapaian perkembangan anak.
Ceklis hendaknya dirancang untuk memotret criteria yang sudah baik rumusannya.
Sebagai contoh ceklis tentang perkembangan bahasa untuk anak 1-2 tahun,
criteria yang digunakan ialah “Menu Pembelajaran Generik” dari Depdiknas tahun
2002, maka bentuk ceklis itu sebagai berikut:
|
Indikator
|
Penilaian
|
||||||||
|
Nama Anak: Ika
|
Nama Anak: Ani
|
Nama Anak: Itok
|
|||||||
|
A
|
B
|
C
|
A
|
B
|
C
|
A
|
B
|
C
|
|
|
Merespon bila dipanggil namanya
|
V
|
V
|
V
|
||||||
|
Mengenal suara orang-orang
terdekat
|
V
|
V
|
V
|
||||||
|
Mengatakan 2 kata yang bermakna
|
V
|
V
|
V
|
||||||
|
Mengerti satu perintah
|
V
|
V
|
V
|
||||||
|
Menyebutkan nama benda
|
V
|
V
|
V
|
||||||
Keterangan:
A: Bisa
B: Bisa dengan bantuan
C: Tidak bisa
c. Skala
jenjang (Rating scale): Hasil dari observasi
dapat dituangkan dalam format skala jenjang, dengan syarat pengamatnya memahami
benar kategori “sesuatu” yang sedang diamati; bisa dinyatakan dengan angka
(misalnya: 1, 2, 3), bisa juga dengan naratif (Tidak pernah, Kadang-kadang,
Selalu).
Contoh
skala jenjang tentang perkembangan social
Nama
anak: Susilo
|
Indikator
|
Tidak Pernah
|
Kadang-kadang
|
Selalu
|
|
Mengucapkan “terima kasih” apabila
diberi sesuatu
|
V
|
||
|
Memohon maaf apabila melakukan kesalahan
|
V
|
||
|
Membantu teman yang mengalami
kesulitan
|
V
|
d. Sampling waktu: ialah cara mengambil contoh
sebagian dari keseluruhan waktu yang ada. Yang dicatat dalam kurun waktu
tertentu, apakah suatu perilaku tertentu muncul atau tidak , dan berapa kali
munculnya perilaku itu. Pengamat menentukan sendiri kapan waktu dilaksanakannya
observasi, berapa interval waktunya, dan bagaimana perilaku akan dicatat.
Contoh sampling waktu tentang
frekuensi perilaku konsentrasi
|
Perubahan konsentrasi
|
Waktu
|
Komentar
|
||
|
Mendengarkan cerita
|
9.00
|
9.05
|
9.10
|
Terjadi perubahan perilaku anak
dari tidak konsentrasi menjadi konsentrasi
|
|
(T) (K)
V
|
(T) (K)
V
|
(T) (K)
v
|
||
Keterangan:
(T) : Tidak konsentrasi
(K) : Konsentrasi
e. Sampling peristiwa: Pengamat merekam data tentang
contoh peristiwa atau kategori peristiwa yang terjadi. Pertama pengamat menentukan
dahulu peristiwa apa yang ingin dicata, kemudian merekam setiap peristiwa itu
apabila teramati.
Contoh tentang perilaku agresif
|
Nama anak: Janto
|
Memukul
|
Mengumpat
|
Menendang
|
Komentar
|
|
Tgl 12/5/10
|
I
|
Iii
|
-
|
Perilaku agresif Janto lebih
banyak dalam bentuk mengumpat
|
|
Tgl 13/5/10
|
-
|
Iiii
|
-
|
|
|
Tgl 14/5/10
|
-
|
Ii
|
I
|
Pedoman observasi tentang
aktivitas anak taman kanak-kanak
saat proses pembelajaran
berlangsung
(tidak berstruktur)
A. Nama anak :
…………………………………………………………
B. Kelas/kelompok : …………………………………………………………
C. Hari/tanggal
observasi:
................................................................................……
D. Kesimpulan :
……………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………. …………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………….
Observer/guru
(……………………..)
Contoh pedoman observasi
yang terstruktur dapat dilihat dalam format sebagai berikut :
Pedoman
observasi tentang aktivitas anak taman kanak-kanak saat proses pembelajaran
berlangsung
(terstruktur)
A. Kelas/kelompok :
……………………………………………………………
B.
Hari/tanggal observasi : ......................................................................………
Observer/guru
(……………………..)
3. Kelebihan dan
Kelemahan Observasi
Kelebihan observasi
a. Waktu yang
digunakan tidak terlalu lama karena guru cukup memberikan tanda cek atau
gambaran perilaku yang ditampakkan anak terhadap pernyataan yang ada dalam
format observasi,
b. Observasi
memungkinkan pencatatan yang serempak untuk beberapa responden (yang
diobservasi), khususnya bila menggunakan pedoman observasi yang terstruktur,
c. Tidak
membutuhkan biaya yang besar, dan
d. Teknik
pengumpulan dilakukan hanya dengan cara mengamati saja, tidak perlu menggunakan
bahasa untuk berkomunikasi dengan objek yang sedang diobervasi.
Kelemahan observasi
a. Guru hanya
mengamati perilaku yang nampak pada anak, kurang mendapatkan informasi yang
mendalam tentang permasalahan atau perkembangan yang terjadi pada anak.
b. Perilaku yang
nampak belum tentu menggambarkan masalah atau perkembangan yang sebenarnya pada
anak,
c. Apabila objek
observasi mengetahui bahwa ia sedang diobservasi maka cenderung dapat
bertingkah yang dibuat-buat,
d. Timbulnya suatu
kejadian yang hendak diobservasi tidak selalu dapat diramalkan sebelumnya oleh
guru sebagai observer sehingga sukar untuk menentukan waktu yang tepat untuk
melakukan observasi, dan
e. Observasi banyak
tergantung kepada faktor-faktor yang tidak dapat dikontrol, seperti cuaca,
berbagai kegiatan yang berlangsung tiba-tiba, dan sebagainya.
BAB
II
PENUTUP
A. Kesimpulan
Observasi adalah suatu cara untuk mendapatkan keterangan mengenai situasi
dengan melihat dan mendengar apa yang terjadi kemudian dicatat secara cermat. Kegiatan
observasi dapat dilaksanakan dalam berbagai situasi seperti kegiatan di dalam
dan di luar kelas, diskusi/kerja kelompok, tanya jawab, menonton film/video,
inisiatif anak membantu teman/guru, persentasi lisan (penggunaan kosa kata,
organisasi kalimat, kontak mata atau konsentrasi), spontanitas berinteraksi
(keterampilan motorik atau ide melakukan kegiatan), waktu bebas, istirahat
(waktu makan, pilihan aktivitas, kuantitas waktu yang digunakan dalam
beraktivitas meupun berinteraksi dengan teman), posisi fisik anak saat duduk
(membaca, menulis dan lain-lain).
Observasi dapat dilakukan dengan
berbagai cara seperti catatan anekdot, ceklis, skala jenjang, sampling waktu,
dan sampling peristiwa. Dan semuanya dapat digunakan dalam observasi di tk
disesuaikan dengan kebutuhan serta situasi dan kondisi yang mendukung untuk
kegiatan tersebut dilakukan.
DAFTAR RUJUKAN
Depdiknas. (2002). Acuan menu pembelajaran pada pendidikan
anak usia dini: Menu pembelajaran generic. Jakarta: Direktorat PADU dan Dirjen
PLS dan Pemuda.
Wasesa, I. (2005). Evaluasi pembelajaran TK.
Jakarta: Pernerbit UT.
http://wahidin.staff.stainsalatiga.ac.id/page/2/
Tidak ada komentar :
Posting Komentar