BAB 1
Wawancara dan
Penyusunan Panduan Wawancara di Tk
a.
Wawancara
dalam Evaluasi AUD
Wawancara adalah
suatu teknik pengumpulan data yang dapat dilakukan guru untuk mendapatkan
informasi tentang perkembangan dan permasalahan anak dengan cara melakukan percakapan
langsung, baik dengan anak ataupun orangtua. Dengan wawancara, guru dapat
menggali lebih jauh kondisi objektif anak. Teknik wawancara terbagi atas dua
bentuk, yaitu wawancara terstruktur (menggunakan daftar pertanyaan
tertulis/kuisioner) dan wawancara tak terstruktur.
Wawancara
adalah metode penilaian yang dilakukan melalui bercakap cakap atau Percakapan antara
anak dengan guru baik didalam kelas maupun diluar kelas. Percakapan dangan
berguna untuk menggali secara langsung tentang apa yang sedang dirasakan,
dipikiran dan diinginkan anak. Dari percakapan kita akan dapat memperoleh
gambaran tentang minat, motivasi dan kebutuhan kebutuhan anak. Pada saat
melakukan percakapan sebaiknya guru selalu memegang daftar cek perkembangan
anak, sehingga segala hasilnya terd okumentasikan.
Daftar cek yang diperlukan dalam rangka program sains dapat dilihat pada
lampiran.
Wawancara
kepada anak paud ini tentu saja bukan wawancara yang formal yang dilakukan
kepada orang dewasa, karena apabila wawancara tersebut terkesan menjenuhkan
maka anak kecil tersebut akan merasa bosan, dan terkadang merasa takut.
Wawancara
adalah suatu tehnik penilain yang dilakukan dengan jalan percakapan (dialog)
baik secara langsung (face to pace relition) secara langsung apabila wawancara
itu dilakukan kepada orang lain misalnya kepada orang tuannya atau kepada
temanya. Keberhasilan wawancara sebagai alat penilaian sangat dipengaruhi oleh
beberapa hal :
a)
Hubungan
baik pewawancara dengan anak yang diwawancarai. Dalam hal ini hendaknya
pewawancara dapat menyesuikan diri dengan orang yang diwawancarai, jika kita
bermaksud mewawancarai AUD tentu cara-cara yang dugunakan berbeda dengan yang
dilakukan untuk wawancara. Wawancara untuk AUD biasanya dilakukan dengan bentuk
dialog atau percakapan.
b)
Keterampilan
pewawancara. Keterampilan pewawancara sangat besar pengaruhnya terhadap hasil
wawancara yang dilakukan, karena guru perlu melatih diri agar meiliki
keterampilan dalam melaksanakan wawancara. Jangan samapai dalam mewawancarai
anak ada kesan bahwa kita sedang mengevaluasi anak, sehingga jawaban yang
diberikan anak tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
c)
Pedoman
wawancara Keberhasilan wawancara juga sangat dipengaruhi oleh pedoman yang
dibuat oleh guru sebelum guru melaksanakan wawancara harus membuat
pedoman-pedoman secara terperinci, tentang pertanyaan yang akan diajukan.
Misalnya guru harus menentukan tujuannya mewawancarai anak, aspek apa yang
ingin ia evaluasi sehingga pertanyaan dalam bentuk dialog tersebut tepat
sasaran sehingga tidak membuat anak bosan.
Adapun Keuntungan
wawancara yaitu :
a)
Wawancara
dapat memberikan keterangan keadan pribadi hal ini tergantung pada hubungan
baik antara pewawancara dengan objek. Misalnya dalam PAUD dengan adanya
hubungan baik antara guru dan walimurid, membuatnya terbuka dalam menyampaikan
kekurangan dan kelebihan anaknya.
b)
Wawancara dapat dilaksanakan untuk setiap umur
dan mudah dalam pelaksaannya untuk AUD dapat dilakukan dengan bentuk
bercakap-cakap baik dikelas atau diluar kelas.
c)
Wawancara
dapat dilaksanakan serempak dengan observasi.
d)
Data
tentang keadaan individu lebih banyak diperoleh dan lebih tepat dibandingkan
dengan observasi dan angket.karena jawabannya langsung kita ketahui melalui
jawaban-jawaban yang diberikan responden secara langsung.
e)
Wawancara dapat menimbulkan hubungan yang baik
antara si pewawancara dengan objek. Apabila wawancara tersebut lancrr, sehingga
menambah rasa lebih dekat membuat suasana keakraban yang membantu pertumbuha
dan perkembangan kearah yang lebih baik.
Sedangkan
Kelemahan wawancara sebagai alat penilain
a.
Keberhasilan
wawancara dapat dipengaruhi oleh kesediaan, kemampuan individu yang
diwawancarai, misalnya ornag tua yang sibuk sehingga tidak bersedia
diwawancarai ataupun memang orangtuanya yang bersikap acuh tak acuh.
b.
Kelancaran wawancara dapat dipengaruhi oleh
keadaan sekitar pelaksaan wawancara, misalnya melakukan wawancara bukan di
tempat yang kondusif seperti dikeramaian.
c.
Wawancara
menuntut penguasaan bahasa yang baik dan sempurna dari pewawancara
d.
Adanya pengaruh subjektif dari pewawancara
dapat mempengaruhi hasil wawancara, misalnya orang yang diwawancarai tidak
bersikap jujur dalam memberikan jawaban.
b.
Penyusunan
Panduan Wawancara di Tk
Penyusunan Panduan wawancara di TK
dalam rangka evaluasi pembelajaran dapat saja dilakukan tergantung responden
yang ingin diwawancarai, dalam mengevaluasi hasil belajar AUD yang bisa kita
jadikan sebagai narasumber yaitu :
a. Peserta
didik itu sendiri
b. Orangtua
peserta didik
c. Teman
atau orang-orang disekitar peserta didik
Wawancara
dilakukan secara informal dan bebas atau tidak terstruktur, hal ini sesuai
dengan pernyataan Sudjana (2008) dalam wawancara bebas jawaban yang digunakan
tidak dipersiapkan sehingga sumber bebas mengungkapkan pendapatnya. Wawancara
merupakan kumpulan pertanyaan yang diajukan secara verbal kepada orang-orang
yang dianggap dapat memberikan informasi atau penjelasan mengenai data yang
diperlukan. Wawancara bersifat luwes dan terbuka sehingga memungkinkan kita mengembangkan
pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan data yang diperlukan dalam penelitian
Denzin (Wiraatmaja, 2002: 117) dalam http://repository.upi.edu/10100/4/t_
pd_0907674_chapter3.pdf.
1.
Penyusunan
panduan mewawancarai anak Tk
a. Perencanaan
: perencanaan merupakan suatu strategi untuk mencapai
suatu sasaran yang hendak dicapai. Karena itu perencanaan harus dibuat diawal
suatu kegiatan tanpa menutup kemungkinanan untuk mengadakan perbaikan atau
penyempurnaan ketika kegiatan itu dilaksanakan. Didalam perencanaan telah
ditetapkan analisa awal mengapa melakukan wawancara, tujuan yang ingin dicapai,
teknik wawancara yang digunakan (terstruktur dan tidak terstruktur), waktu
pelaksanaan dan lembaran catatan pertayaan yang akan diajukan. Adapun hal-hal
umum yang perlu diperhatikan guru adalah :
.
a) Wawancara pada anak-anak akan
memberikan beberapa informasi pada kita tentang persepsi mereka dari suatu
permasalahan, pikiran dan perasaan mereka tentang mereka sendiri, dan kesan
mereka dari situasi mereka dan hubungan atau pertemanan mereka. Untuk
mendapatkan informasi tersebut tergantung pada tingkat perkembangan dan
kemampuan berbahasa dan konseptual mereka. Sebagai seorang psikolog yang akan
melakukan asesmen kita harus terampil dalam membuat anak mau mengungungkapkan
pikiran dan perasaan mereka kepada kamu. Ketika melaksanakan suatu wawancara,
ingatlah selalu perhatikan usia anak, pengalaman mereka, tingkat perkembangan
kognitif mereka, dan kemampuan untuk mengatakan dirinya sendiri.
b) Tidak seperti mewawancarai orang
dewasa, karena keterbatasan mereka dalam memahami bahasa, mengungkapkan bahasa,
kemampuan konseptual, dan memori. Jadi kita harus secara khusus berhati-hati
tentang bagaimana kita bertanya pada mereka. Ingatlah bahwa anak mungkin tidak
menyadari bahwa mereka memiliki masalah. Untuk mendekati anak, kita harus
membantu mereka nyaman terlebih dahulu.
c) Beberapa hal yang harus di
perhatikan saat melakukan wawancara dengan anak: tempat atau situasi yang asing
bagi mereka bisa membuat perilaku anak dalam wawancara mungkin berbeda dengan
perilakunya sehari-hari atau di tempat lain, kapan waktu yang cocok untuk
memulai wawancara, membuat tujuan dari wawancara awal dengan anak.
d) Ada teknik umum dan dan teknik
khusus untuk mewawancarai anak: cara yang paling umum untuk membantu anak
megingat, berfikir, dan bercerita tentang diri mereka adalah dengan menanyakan
pada mereka sebuah pertanyaan. Sedangkan teknik khusus yang digunakan
adalah:
-
Mempertimbangkan usia anak dan panjang dan lamanya wawancara
berlangsung.
-
Membuat kalimat yang cocok sebagai pembuka wawancara.
-
Menggunakan bahasa dan intonasi yang sesuai.
-
Menghindari leading question.
-
Menanyakan contoh (perilaku mereka atau orang lain).
-
Terbukalah untuk apa yang anak ceritakan pada anda.
-
Buatlah komentar deskriptif,Gunakan refleksi.
-
Seringlah mengapresiasi anak dan Hindari kalimat mengkritik.
-
Gunakan pertanyaan yang sederhana dan mudah difahami.
-
Buatlah pertanyaan
dalam subjungtive mood (hipotetik) jika diperlukan.
-
Bijaksanalah Mengenal tanda ketidak nyamanan anak.
-
Gunakan, plastisin,
krayon atau boneka untuk membantu anak bicara.
-
Gunakan teknik sentence-completion. Dab Gunakan kalimat
fantasi.
e) Di beberapa situasi reinforser
sangat dibutuhkan untuk membantu kelancaran wawancara dengan anak.
f) Lingkungan anak sangat penting dalam
pembentukan kesulitan pada anak. Dengan meyuruh anak untuk menggambarkan
ruangan yang ada di rumah mereka dan menyuruh mereka menceritakan tentang hal
itu akan membantu dalam membangun repport dan informasi lain yang berguna dalam
interpretasi. Kejadian mental seperti histori anak mengalami trauma otak juga
penting digali.
g) Selebihnya orang tua, guru, dan
anggota keluarga adalah berperan sangat penting dalam memberikan informasi
tentang anak. Maka wawancara terhadap mereka juga hal yang sangat diperlukan.
Namun dengan tujuan dan jenis pertanyaan yang berbeda.
b. Pelaksanaan
Seperti panduan diatas bahwa dalam
mewawancarai anak dengan orang dewasa cara yang digunakan jauh berbeda,
wawancara di Tk dapat dilakukan dengan dialog yang bersifat santai sehingga
anak tanpa sadar bahwa ia sedang
dievaluasi. Hal lainnya adalah pendekatan intensif sebelum diadakan wawancara
misalnya dengan memberikan pujian sehingga anak merasa diperhatikan misalnya :
Guru : Tania tas barunya bagus
ya, beli dimana?
Tania : beli di pasar.
Guru :
siapa yang membelikan?
Tania : mama buk
Guru :
Tania suka binatang ya? tasnya ada gambar binatang
Tania : suka buk guru,
Guru : gambar hewan apa yang ada di tas Tania ?
Tania : kucing buk guru.
Guru : Tania suka kucing ?
Tania : suka buk guru, soalnya dirumah Tania banyak kucing buk guru,
canti- cantik buk, ada yang namanya dodit, didit dedet.
Pancing terus anak sehingga ini akan
membantu anak megingat, berfikir, dan bercerita tentang diri mereka sehingga
kita bias melihat kemapuan anak dan penggalian informasi dalam rangka evaluasi pembelajaran diperoleh
melalui wawancara dirasa telah cukup.
2.
Penyusunan
panduan mewawancarai wali murid
Guru dan orangtua siswa adalah dua aspek
yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya adalah mitra sejajar yang berperan sangat
penting dalam pendidikan seorang anak. Sekolah tidak mampu berjalan sendirian,
orangtua pun tidak bisa berjalan sendiri melaksanakan pendidikan untuk
anak-anaknya.
Guru
dapat memperoleh tambahan pemahaman akan anak dalam konteks lingkungan anak
dengan melibatkan keluarga dalam proses penilaian. Banner (1992) membahas
pentingnya penilaian valid secara ekologi yang melibatkan analisis keluarga,
budaya dan komunitas dan menganggap anak sebagai bagian dari lingkungan rumah
dan komunitas, tidak sebagai individu terisolasi.(dalam Nurhaizah .2010. bahan
ajar kolaborasi orangtua dan guru dalam PAUD)
Informasi
mengenai kelebihan dan kebutuhan dapat di peroleh melalui berbagai macam
metode, termasuk interview atau wawancara, hal awal yang perlu dipersiapkan
adalah :
a) perencanaan seperti yang telah
dibahas pada perencanaan penyusunan panduan wawancara untuk anak didik hal-hal
yang diharapkan hampir sama.
b) Meminta persetujuan pihak terkait
untuk bersedia diwawancarai, dan menentukan kapan waktu pelaksanaannya
c) Merancang kuisioner, Kuisioner
yaitu cara pengumpulan data tentang anak,dengan cara mengajukan beberapa
pertanyaan kepada orang tua murid. Baik itu saat home visit maupun saat
orangtua diundang ke TK, kita sebaiknya dalam membuat kuisioner janganlah
sampai membuat orangtua risih dan merasa diadili, kita harus menciptakan
suasana sesantai mungkin dalam Tanya jawab. jangan sampai pertanyaan-pertanyaan
yang dilontarkan menyinggung perasaan lawan bicara dengan bertanya terlalu to the point . namun pada saat
merancang kuisioner perlu dipikirkan pertanyaan-pertanyaan pembuka sebelum kita
masuk kepada inti dari pertanyaan kita dengan menyapa orangtua murid, seperti :
·
“Oh…dengan ibuk Olivia ? oh… ibuk
Olivia mamanya laudia ?”
Biasanya dimulai dengan sedikit basa-basi ringan untuk
mencairkan hubungan, seperti menanyai pekerjaan dan hobi, tinggal pernah
sekolah dimana, siapa tahu dengan pertanyaan seperti itu suasana akan mencair
apalagi jika diketahui ada diantara bagian masalalu kita yang berhubungan
seperti pernah satu sekolah.
Adapun contoh kuisioner untuk mendapat pengetahuan
awal tentang menganalisis bagaimana cara orangtua mengenalkan huruf pada anak
apakah lisan terlebih dahulu atau tulisan, sehingga dengan pertanyaan yang
dibuat terjadi singkronisasi antara cara pengajaran guru dan orangtua sehingga
tidak membuat anak linglung :
Adapun contoh kuisionernya tak terstruktur adalah :
Permasalahan :
kemampuan menulis anak
a.
Olivia perkembangan bahsanya cukup
bagus,namun perkembangan fisik motoriknya agak kurang (menulis), apa Olivia
tidak senang menulis dirumah?
b.
Adakah ibu/ bapak membimbing Olivia
dalam belajar?
c.
Bimbingan seperti apa yang ibu /
bapak berikan dalam membantunya mengenal huruf ? (jika jawabannya tidak
singkron dengan teknik pengajaran kita, maka berikan alasan logis dengan
menunjukkan bukti yang akurat) seperti :
d.
Cara yang bapak ibuk ajarkan sudah
baik, namun disekolah kami mengajarkanya begini ! apakah bapak / ibuk bisa
membantunya dirumah ?
e.
Apakah Olivia memiliki sarana
penunjang seperti alat permainan yang dapat menunjangnya dalam membaca dan
menulis?
f.
Apakah anak ibuk memiliki teman
dirumah ?
g.
Saat bermain permainan apa yang
sering mereka mainkan ?
h.
Apakah dirumah anak bapak memiliki
banyak buku anak-anak ?
Jika semua pertanyaan telah dijawab akhiri pertemuan
dengan nada penuh pengharapan seperti mengulang saran yang diberikan kepada
orangtua dan menutupnya dengan sopan.
Selain bentuk diatas untuk bentuk yang lebih format
pedoman wawancara sebagai berikut :
PEDOMAN
WAWANCARA
Orang
Tua
I.
Karakteristik Informan
:
-
Identitas informan :
-
Nama :
-
Usia :
-
Pekerjaan :
-
Tempat tinggal :
-
Jumlah Anak :
-
Pendidikan terakhir :
-
Penghasila /bln :
-
Alamat/Telp :
II.
PAUD
1. Sejauh
mana pemahaman bapak atau ibu mengenai pendidikan anak usia dini?
III.
PARTISIPASI
A.
Perhatian dan Motivasi
1. Bagaimana
perhatian yang di berikan ibu jika anaknya sedang belajar disekolah ?
2. Apakah ada batasan di sekolah jika ibu ingin
memberi perhatian pada anak jiak ia sedang di sekolah ?
3. Apa
usaha ibu dalam memberi anak motivasi dalam bersekolah ?
B. Keaktifan
1. Seberapa
aktif anak ibu datang ke PAUD Anisa untuk melakukan kegiatan belajar dan
mengajar ?
2. Apakah
ada usaha dari ibu apabila anak mulai malas untuk datang ke sekolah? apa bentuk
usaha tersebut ?
3. Jika
anak ibu tidak aktif dalam kelas apakah ada perhatian khusus dari tenaga pengajar
? jika ada seperti apa perhatian tersebut ?
C. Tantangan
atau Hambatan
1. Apakah
banyak hambatan pada anak yang dirasakan ibu dalam urusan belajar? jika memang
banyak hambatan seperti apa yang dirasakan ?
2. Sejauh mana ibu membantu jika anaknya menemui
hambatan di dalam pelajaran sehingga anak merasa tertantang untuk
menyelesaikannya ?
D. Balikan atau Penguatan
1. Hal
yang paling sering ibu berikan pada anak jika anak bermasalah dalam rendahnya
partisipasi belajar ?
IV.
FAKTOR – FAKTOR SOSIAL
(Sekolah, Masyarakat, Keluarga, dan anak itu sendiri)
A. Yang
berasal dari sekolah
1.
Bagaimana menurut ibu
materi yang di berikan oleh para guru ?
2.
Bagaimana kondisi anak
ibu antar teman sebaya di sekolah ?
3.
Bagaimana sarana yang
diberikan di PAUD anisa ini untuk perkembangan anak?
4.
Bagaimana menurut ibu dengan cara mengajar
para guru di sekolah ?
B. Yang
berasal dari lingkungan sosial (teman sebaya)
1. Bagaimana
interaksi anak ibu dengan teman sebayanya di luar sekolah ?
2. Apakah ada di lingkungan rumah ibu anak yang
seusia anak ibu tapi tidak bersekolah ? jika memang ada mengapa ? dan apakah
menurut ibu itu berpengaruh pada anak ibu dalam bersekolah ?
C. Yang
berasal dari Keluarga
1. Bagaimana
kondisi dari keluarga ibu ?
2. Bagaiman
ibu menyikapi apabila anak ibu malas datang kesekolah ?
3. Apakah
dirumah jika anak – anak sedang menonton telivisi selalu ada pengawasaan?
4. Apakah
dalam keluarga ibu sering terjadi hal yang tidak di inginkan seperti pertengkaran
dalam keluarga ? jika memang ada apakah berpengaruh pada rendahnya partisipasi
anak untuk datang ke sekolah ?
D.
Yang berasal dari diri
anak
1. Bagaimana
sikap anak di sekolah dengan di rumah ? apakah ada perbedaan ?
2. Jika
anak ibu bermasalah dalam keperibadiannya sejauh mana ibu mengatasinya ?
BAB
II
PENUTUP
a. Kesimpulan
Wawancara
kepada anak paud ini tentu saja bukan wawancara yang formal yang dilakukan
kepada orang dewasa, karena apabila wawancara tersebut terkesan menjenuhkan
maka anak kecil tersebut akan merasa bosan, dan terkadang merasa takut.
Wawancara adalah
suatu teknik pengumpulan data yang dapat dilakukan guru untuk mendapatkan
informasi tentang perkembangan dan permasalahan anak dengan cara melakukan
percakapan langsung, baik dengan anak ataupun orangtua. Dengan wawancara, guru
dapat menggali lebih jauh kondisi objektif anak. Teknik wawancara terbagi atas
dua bentuk, yaitu wawancara terstruktur (menggunakan daftar pertanyaan
tertulis/kuisioner) dan wawancara tak terstruktur.
Penyusunan Panduan wawancara di TK
dalam rangka evaluasi pembelajaran dapat saja dilakukan tergantung responden
yang ingin diwawancarai, dalam mengevaluasi hasil belajar AUD yang bisa kita
jadikan sebagai narasumber yaitu : Peserta didik itu sendiri, Orangtua peserta
didik, Teman atau orang-orang disekitar peserta didik
Daftar
Pustaka
Nurhafizah
.2010. Bahan Ajar Kolaborasi Orangtua Dan Guru Dalam PAUD. UNP : Padang
http://anna-w--fpsi09.web.unair.ac.id/artikel_detail-59566-Psikologi%20Observasi%20dan%20 wawancara .html